Pages

Subscribe:

About

Senin, 30 April 2012

Ayat-ayat yang Menjelaskan Hubungan Kita (Yang Hidup di Dunia) dan yang Telah Wafat (Di Alam Barzakh) Tidak Terputus




Kehidupan barzakh yang dialami oleh seseorang merupakan sejenis proses pemurnian (tashfiyah).
Manusia-manusia yang memasuki alam barzakh ini seperti dibersihkan dari kotoran-kotoran dan ia menjalani proses pemurnian tersebut dengan kesadaran.
Kehidupan di alam barzakh adalah tahap awal untuk memetik hasil amal-amal yang ditanam selama hidup di dunia dan melihat sebagian pahala atau siksaan.
Dalilnya yaitu pernyataan orang-orang yang berdosa ketika ruh mereka dicabut dari raganya.
Mereka menyesali hasil-hasil amal mereka sehingga ingin kembali hidup lagi di dunia untuk menebus kesalahan-kesalahannya dengan berbuat baik.
Kalau mereka tidak menyadari mana mungkin memohon permintaan itu.
Al Mukminun 99-100.
99. (Demikianlah Keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)[1021],
100. Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan[1022].
[1021] Maksudnya: orang-orang kafir di waktu menghadapi sakratul maut, minta supaya diperpanjang umur mereka, agar mereka dapat beriman.
[1022] Maksudnya: mereka sekarang telah menghadapi suatu kehidupan baru, Yaitu kehidupan dalam kubur (alam barzakh), yang membatasi antara dunia dan akhirat.
Al An’am 93.
93. dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, Padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.” Alangkah dahsyatnya Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang Para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.
Kita ingin membuktikan bahwa hubungan kita dengan para arwah itu tidak pernah putus.
Para arwah itu juga bahkan bisa mendengarkan pembicaraan kita.
Namun bagaimana dan sejauh mana hubungan ini?
Apakah setiap orang bisa berbicara dengan ruh mana saja yang diinginkan?
Ini yang belum jelas. Ada tiga kelompok ayat dalam al-Quran yang bisa memberikan jawaban yang tepat.
Kelompok ayat-ayat pertama (QS. 3:169-171)
169. janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[248] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.
170. mereka dalam Keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati (memberi kabar gembira) terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka[249], bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
171. mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.
[248] Alam Barzakh
[249] Maksudnya ialah teman-temannya yang masih hidup dan tetap berjihad di jalan Allah s.w.t.
Menurut ayat pertama orang-orang yang gugur di jalan Allah itu hidup bahkan dengan jelas dikatakan, sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya.
Untuk menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hidup itu adalah kehidupan yang hakiki dan bukan kehidupan non-hakiki (majazi) yaitu dalam arti nama mereka tetap hidup di hati manusia sekalipun mereka sudah mati.
Allah Swt menjelaskan karakter-karakter hidup seperti menikmati rezeki, untuk mematahkan anggapan bahwa mereka itu hidup yang bukan sebenarnya.
Pada ayat kedua dijelaskan lagi sinyal-sinyal kehidupan seperti gembira, dan tidak ada rasa takut.
Bahkan mereka juga merasa gembira dengan kenikmatan yang belum didapat oleh orang-orang yang ada di belakang mereka yang belum menyusul mereka.
Dalam ayat, “dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS. Ali Imran: 170)”, ada kata kunci yastabsyirun (bergirang hati) yang bisa menjadi kunci jawaban masalah ini.

Tiga Penafsiran Makna  dari Kata “Yastabsyirun”
  1. Yubasysyirun:
    Arti yang paling terang dari kata yastabsyirun adalah yubasysyirun: “memberi kabar gembira”, atas para pejuang kebenaran yang masih tinggal di belakang yang belum meriyusul mereka. Jadi lafadz istabsyara (bergirang hati, gembira) di sini berarti basysyara (memberi kabar gembira: kata kerja lampau/ fi’il madhi dalam bab taf’il).Ibnu Mandzur, penyusun Lisanul ‘Arab mengatakan istabsyara seperti basysyara.
    Dalam kamus Taj al-Arus” Istabsyara seperti basysyara.
    Demikian juga dalam kitab Muntaha al-‘Arab, istabsyara artinya memberi kabar gembira.
Dalam kamus Aqrab al-Mawaairid juga ditulis istabsyara bih maksudnya absyara, istabsyarahu wa istabsyara bih artinya basysyarahu.
Dalam kitab Mu’jam al- Wasith dikatakan istabsyara fulanan artinya basysyarahu.
Kalau kita cek kamus-kamus lain maka kita akan menemukan penjelasan yang sama bahwa istabsyara itu mengandung arti basysyara. Untuk bentuk muta’adi (intransitif, kata kerja yang memerlukan objek) memakai tambahan partikel bi.
- Mubasyir artinya yang memberi kabar gembira
- Mubasyar artinya yang diberi kabar gembira
- Mubasyir bih isi pesan gembira.
Orang yang masih tinggal di belakang mereka (yaitu para pejuang kebenaran) yang belum menyusul mereka adalah kelompok yang diberi kabar gembira atau mubasyar.
Mereka diberi kabar gembira: bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
Biasanya isi kabar gembira itu dalam: bahasa Arab memakai partikel tambahan ba, (yang artinya dengan) kalau pesan beritanya itu dalam bentuk mufrad (tunggal) seperti dalam ayat fabasyarnahubi ghulamin halim (kami beri kabar gembira kepadanya dengan kelahiran seorang anak yang sangat sabar (Ismail). (QS. Ash-Shafat:101).
Namun isi pesan pesan ayat ini dalam bentuk kalimat maka diasumsikan (ditaqdirkan) ada kata-kata yang dibuang yaitu yaquluuna (mereka berkata).
Para pejuang yang, “Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS. Ali imran: 170)”
  1. Yastabsyiruna:
    Artinya “bergembira”. Di dalam ayat-ayat al-Quran banyak kata-kata yastabsyiruna dengan arti tersebut seperti Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah (QS. Ali imran: 171),
    Maka bergembira-lah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. (QS at¬Taubah: 111).Tapi arti ini sangat tidak tepat untuk ayat wayastabsyiruna billadzina lam yalhaqu bihim min khalfihim (dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka…).
Karena orang yang masih tinggal di belakang tersebut tidak bisa menjadi sumber kegembiraan, sementara dalam ayat kedua fastabsyirii biba’ikum allad;;yi baya’tum (maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan), jual beli yang telah kamu lakukan memang bisa menjadi sumber kegembiraan.
Kita bisa mengatakan bahwa manusia bisa merasakan kegembiraan atas karunia dari Allah tapi akan sangat janggal kalau dikatakan bahwa mereka. bergembira atas orang-orang yang belum menyusul mereka. Apalagi orang-orang yang belum menyusul mereka (lam yalhaqu) adalah orang-orang yang belum menerima kenikmatan. Jadi mana mungkin orang yang sudah mendapatkan kenikmatan akan bergembira atas orang yang belum mendapatkan kenikmatan.
  1. Istabsyara:
    Hal itu dianggap masuk dalam bab Istif’al dari basyara yang akan berarti menuntut kabar gembira, seperti istikhrqja yang artinya menuntut keluar atau mengusir. Jadi arti ayat wayastabsyiruuna billadzina lam yalhaqu bihim min khalfihim diartikan ! Mereka meminta kegembiraan/kabar gembira terhadap orang yang ada di belakang mereka yang belum menyusul.Istif’al itu berarti menuntut makna dari asal kata sebelum dimodifikasi dalam bentuk (shigah) istif’al tersebut. Seperti kharaja yang artinya keluar kalau dimodifikasi menjadi bentuk istakhraja, artinya menuntut keluar.
Jadi mereka yang bergembira dengan karunia yang diberikan oleh Allah Swt (yaitu para syuhada) mengharapkan orang-orang yang ada di belakang mereka juga mendapat kegembiraan; Mereka menunggu bahwa orang yang ada di belakang mereka juga akan menjadi orang¬orang yang syahid seperti mereka. Efek dari mengharapkan kegembiraaan tersebut membuat merasa gembira.
Jika makna isytabsyara adalah demikian (yaitu menuntut atau mengharapkan kegembiraan teman-temannya sendiri) maka hubungannya tidak secara langsung (karena mengharapkan kegembiraan itu dengan syarat mereka telah syahid, sementara ini mereka belum syahid jadi tidak terjadi sebab dan akibat secara berurutan).
lnilah tafsiran yang diberikan mufasir al-Manar yang memberikan tafsiran demikian cermat dan teliti di bandingkan yang lain, demikian juga seperti yang dilakukan oleh Fakhrurrazi
Kesimpulannya:
Dari sini kita bisa memahami bahwa ayat yang kedua (QS 3:170) yaitu,
Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS. Ali Imran: 170)
Itu lebih dekat kalau diberi penjelasan dengan arti istabsyara ke-1 dan ke-2 tapi arti ke-2 tidak sekuat arti yang ke-1.
Kesimpulannya, manusia-manusia yang kini telah berada di alam barzakh terlebih orang-orang beriman, mereka itu hidup dengan penuh kesadaran dan dengan izin Allah SWT terhubung dengan manusia-manusia yang masih hidup di dunia.




0 komentar:

Posting Komentar